08 April 2008

Kualitas Film Ayat-Ayat Cinta

Saya telah menonton Film Ayat-Ayat Cinta yang sudah saya tungu sejak lama.
Film ini saya download dari FTP di kampus. Sebelum menonton film ini, saya berpikir satu hal, apakah film ini sama bagusnya dengan novelnya? Dari pertanyaan tersebut, pastilah bisa merembet ke pertanyaan lain. Seperti, apakah pesan dakwahnya tersampaikan. Selanjutnya yang saya takutkan adalah, apakah akan terjadi keanehan-keanehan scene yang malah menjadi suatu kesalahan atau penyelewengan dari Islam?

Hmmmm...
Menurut saya, film ini belum bisa bersanding dengan novelnya. Ada beberapa keanehan yang saya temukan:
  1. Fahri berduaan dengan Maria di pinggir sungai.
  2. Maria masuk ke flat kost Fahri ketika membetulkan komputer. Terlebih, teman-teman Fahri tidak pada kondisi siap menerima tamu.
  3. Aku merasa film ini seperti film cinta yang berlabel Islam.
  4. dll
Karena ada beberapa kekurangan seperti yang saya ungkapkan di atas, saya hanya takut banyak orang yang belum membaca novelnya tetapi sudah menontn filmya berpikir seperti ini:

Novel AAC katanya bagus -> sekarang novelnya difilmkan -> Film = Novel -> Akhirnya muncul pandangan, Oh Islam yang bagus itu seperti ini...

Sebetulnya, bagus saja jika nilai yang diambil ketika menonton film adalah nilai yang benar-benar ada dalam Islam. Tapi, jika nilai yang diambil adalah poin yang tidak sesuai dengan Islam, saya khawatirkan terjadi kesalahan pemahaman akan Islam. Semoga ini tidak terjadi! Semoga kesalahan-kesalahan yang terjadi bisa tertutupi dengan niat baik dakwah para kru film. Amin...

Komentar yang lebih bagus tentang film ini saya temukan di blog ini.

Menurut anda, bagaimanakah kualitas Film Ayat-Ayat Cinta?
Apakah pesan dakwahnya mengena dan tepat?
Mohon berikan alasannya...

2 respon:

Hikari mengatakan...

diskusi masalah film AAC y?
wah seru nih

1. kalo menurut ana, novel emang harus beda dgn filmny, kalo sama buat apa dbkn filmny???
2. untuk ukuran film indonesia yang temany itu2 aja dan malah banyak yg g jelas,, film AAC uda bagus
3. menurut ana, kalo kita berdakwah, mengajak orang lain kpd kebajikan ya pelan-pelan, butuh evolusi bukan revolusi, mungkin awalnya kita mengenalkan dulu , langkah selanjutnya kita perdalam ilmuny pelan-pelan..
4. emang sih filmny blm islam bgt,, banyak adegan2 yang belum menunjukkan islam sebenarnya,, tapi mungkin bisa diperbaiki dengan film selanjutnya, ketika cinta bertasbih mungkin,,(btw.antum ga ikut audisi bwt jad azzam ta?,, hahahahaha)
AAC uda menarik banyak minat orang ttg islam,,,dan d hrp bisa menginspirasi para sineas bwt bikin film yg lbh bagus lagi.
dan lagi bg mereka yang uda nonton tp blm baca novelny kn jadi penasaran trus beli novelnya nbaca, jd kn bs lbh tahu dgn detail


gara-gara AAC sekarang kalo ikut kajian jd disambung2in dgn aisyah kek, ato fahri,,


btw ini awal yang baik,,nah sekarang giliran sapa yang nglanjutin



afwan, mngkn da feed back.

Rachavidya mengatakan...

Afwan ya...baru sempat nge-net lagi

Mengenai pendapat antum (bener kan??ikhwan pa akhwat? - maaf- )bisa juga sih seperti itu...
memang semuanya butuh proses.

Lalu, menurut antum bagaimana caranya membenahi kesalahan-kesalahan tersebut? Padahal, jika tidak diutarakan dalam forum diskusi, maka seperti tidak ada apa-apa.

Memang, butuh dan harus ada yang ngelanjutin... mungkin kalo saya sendiri ada MSTEI untuk bergerak di fakultas dan Gamais untuk kampus.. Mungkin, bagi komunitas semacam ini, hal tersebut telah jelas dan tidak diragukan lagi benar/tidaknya suatu pergaulan yang Islami.. Mungkin dari buletin mingguan bisa diangkat topik tersebut.. Jadinya bisa saya usulkan.. Tetapi kelemahannya untuk menjangkau masyarakat luas bagaimana?? :)


Btw,, antum punya blog atau tidak?
Saya jadi tidak bisa identifikasi antum dengan cukup jelas... jadi mirip anonim.. hehehe...

Recent Comments

Powered by Blogger Widgets