Social Icons

Featured Posts

Arah Kiblat di Posisi Bandung

Arah kiblat kota Bandung 6°57' LS 107°34' BT (GMT +7)
Arah kiblat: 295°11"23'
Jarak : 7795.336 Km

06 Mei 2013

Tentang Rezeki [Part.I]

بسم الله الرحمن الرحي

Pada kesempatan ini saya ingin sekali membahas tentang "Rezeki". Ya, suatu kata yang sudah sangat jamak dan sering kita dengar. Suatu kata yang menggambarkan entitas yang dikejar oleh manusia. Pada bagian I ini saya ingin membahas mulai dari makna rezeki yang jamak dipahami orang pada umumnya. Pertama, umumnya pemahaman rezeki ini sudah menyempit sekali dewasa ini. Karena, secara umum pemahaman rezeki ini disamakan dengan gaji yang diperoleh seseorang karena usahanya. Boleh jadi bagian terakhir tidak salah, yaitu diperoleh dengan mengusahakannya, walaupun tidak sepenuhnya bisa dibenarkan. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika rezeki tadi diartikan sama hanya dengan gaji. 

Rezeki, jika kita mau berpikir sedikit lebih teliti, maka akan memiliki makna luas. Sesungguhnya, apa saja yang kita dapatkan atas seizin Allah SWT untuk bisa dimanfaatkan dalam hidup ini adalah rezeki. Baik yang memiliki bentuk fisik seperti gaji, makanan, minuman, sinar matahari, siang, malam, udara, dsb tidak akan bisa kita sebutkan satu per satu. Bahkan, ada rezeki yang tidak bersifat fisik seperti rasa senang, rasa aman, rasa tenang, dsb tidak akan bisa kita sebutkan satu per satu. Maka dari sana lah banyak yang mencoba merumuskan bahwa ada suatu rezeki yang ultimate, paling prioritas, dan paling tinggi derajatnya, yaitu nikmat IMAN dan ISLAM. Mengapa?

Berikut "salah satu" jawabannya:

[QS.8:38]


قل للذين كفروا إن ينتهوا يغفر لهم ما قد سلف وإن يعودوا فقد مضت سنة الأولين

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu".(QS.8:38)

Mari kita coba cermati ayat di atas maka kita akan melihat adanya perubahan sikap dari "kekufuran" menuju "keimanan" dan disempurnakan dengan "keislaman". Di sana dikatakan "jika mereka berhenti dari kekufuran (penolakan terhadap perintah-perintah Allah), niscaya Allah akan mengampuni dosa yang sudah lalu". Maka kita akan melihat suatu proses pertaubatan seorang hamba dari "menolak perintah Allah (kufur)" menjadi "menerima dengan ikhlas perintah Allah", yang inilah kita sebut dengan "iman - islam". Maka tidak pantas jika kita mendebat atau menolak atau hanya menawar perintah-perintah Allah. Karena dengan itu, maka pada dasarnya keyakinan (iman) kita hancur. Karena yakin, iman, adalah modal dasar taubat bisa diterima sehingga dosa-dosa yang sudah lalu bisa diampuni Allah SWT.

[Bersambung.. In-syaa Allah]

Wallahu a'lam bishowwab

07 Februari 2013

Pendorong Penyimpangan dan Menuju Jalan Kesesatan

بسم الله الرحمن الرحي

Biasanya, kita sering dijelaskan dan mendengar kajian tentang bagaimana jalan Islam itu. Bagaimana karakteristiknya dan bagaimana dasarnya. Pada kesempatan kali ini, saya ingin membahas sedikit tentang kebalikan dari jalan tersebut, yaitu jalan menuju kesesatan. Harapannya, kita semakin paham lagi apa-apa yang bisa membawa kita menyimpang dari jalan yang lurus menuju kesesatan. Sehingga, kita dengan sadar bisa menghindarinya dan semoga kita yang beriman termasuk orang-orang yang selamat di dunia dan akhirat. Aamiin

Berikut adalah poin-poin yang bisa mendorong penyimpangan dan menuju ke jalan kesesatan:


1. Mengikuti hawa nafsu pribadi


فإن لم يستجيبوا لك فاعلم أنما يتبعون أهواءهم ومن أضل ممن اتبع هواه بغير هدى من الله إن الله لا يهدي القوم الظالمين


Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.
(QS.28:50)


أرأيت من اتخذ إلهه هواه أفأنت تكون عليه وكيلا
-
أم تحسب أن أكثرهم يسمعون أو يعقلون إن هم إلا كالأنعام بل هم أضل سبيلا

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).
(QS.25:43-44)

2. Mengikuti nenek moyang tanpa pengetahuan


وإذا قيل لهم اتبعوا ما أنزل الله قالوا بل نتبع ما ألفينا عليه آباءنا أولو كان آباؤهم لا يعقلون شيئا ولا يهتدون

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?"
(QS.2:170)

وإذا قيل لهم تعالوا إلى ما أنزل الله وإلى الرسول قالوا حسبنا ما وجدنا عليه آباءنا أولو كان آباؤهم لا يعلمون شيئا ولا يهتدون

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? 
(QS.5:104)

3. Kepatuhan kepada selain Allah SWT


يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
(QS.4:59)


وإن تطع أكثر من في الأرض يضلوك عن سبيل الله إن يتبعون إلا الظن وإن هم إلا يخرصون

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).
(QS.6:116)

Dari poin di atas, bolehlah kita simpulkan bahwa pendorong penyimpangan dan menuju jalan kesesatan adalah poin kemusyrikan. Jika dirinci adalah kemusyrikan untuk tidak mau tunduk dengan insyaf menghamba dan mengabdi kepada Allah SWT saja. Karena di sana ada penghambaan dan pengabdian yang berdasar pada nafsu pribadi, pada kebiasaan nenek moyang tanpa ilmu, dan mengikuti kebanyakan manusia yang jahil untuk tidak patuh kepada Allah SWT saja. Mari kita muhasabah diri, menilai apakah ada poin-poin tadi masih ada menempek pada diri kita? Mari kita segera menghindarkan diri sejauh-jauhnya dari poin-poin tadi.


Semoga kita termasuk orang-orang yang beriman dan selalu terbimbing dalam jalan sirathal mustaqim sehingga bisa selamat di dunia dan akhirat, sehingga terhindar dari poin-poin yang disebutkan di atas. Aamiin

Wallahu a'lam

05 Februari 2013

Janji Allah : Allah Menjaga Orang yang Menyampaikan Risalah

بسم الله الرحمن الرحيم

يا أيها الرسول بلغ ما أنزل إليك من ربك وإن لم تفعل فما بلغت رسالته والله يعصمك من الناس إن الله لا يهدي القوم الكافرين


Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanah-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
(QS. 5:67)


Saya ingin sedikit mengulas tentang janji Allah kepada manusia yang beriman kepadaNya dengan sesungguhnya dan mennyampaikan risalahNya kepada masyarakat luas. Satu ayat yang membahas itu adalah di Surah Al-Maidah ayat 67 seperti yang tertera di atas. Mari coba kita perhatikan:

Di awal kalimat Allah memerintahkan Rasul (penyampai risalah) untuk tabligh ( بلغ ). Bagi kita yang beriman dengan kerasulan Nabi Muhammad SAW, tentulah menjadi kewajiban kita untuk meneruskan risalah tersebut. Menyampaikan apa yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya. Tidak lain adalah Al-Qur'an, yang berisi risalah (tauhidullah). 

Jika risalah tersebut tidak disampaikan, maka itulah yang disebut orang yang tidak amanah (ingat, amanah memiliki kaitan erat dengan iman). Maka syarat utama orang itu amanah adalah beriman dan menyampaikan risalah.

Allah berjanji bahwa Ia akan menjaga ( يعصمك ) pembawa risalah tadi dari gangguan manusia (الناس). Artinya, dalam berda'wah dan menyampaikan risalah, sungguh Allah tidak akan membiarkan pejuang risalah menjadi terhina di dunia maupun di akhirat. Ini menjadi indikasi juga bahwa pertentangan yang akan terjadi antara para penegak risalah dan para penghadangnya. Karena setiap ada aksi, maka ada reaksi (macam Hukum Newton euy..). Maka tidak akan ada hambatan jika tidak ada yang dihambat. Allah mengingatkan ini bahwa sunatullah bahwa gangguan (manusia) akan ada. Inilah proses (sirathal mustaqim) yang memisahkan mana yang membela al-Haq dan al-Bathil. Ini menjadi motivasi tersendiri bagi orang yang beriman untuk hanya yakin kepada Allah saja cukup sebagai sebaik-baik penjaga dan penolong. Dengan yakin hanya kepada Allah, kita sudah menjauhkan diri dari sikap musyrik yang tidak diampuni oleh Allah.

Mari ber-fastabikhul khoirot. Meniti jalan sunnaturrasul dalam mempertahankan keimanan dan aqidah kita dengan Al-Qur'an sebagai satu-satunya pedoman yang layak diikuti.

Laa haulaa wa laa quwwata ilaa billah...

19 Desember 2012

Alhamdulillah, Karya Jurnal Internasional Pertama

بسم الله الرحمن الرحيم


Alhamdulillahirobbil'alamin...

Atas Karunia Allah SWT, untuk pertama kalinya saya telah memiliki pengalaman untuk menyelesaikan artikel ilmiah untuk diterbitkan di jurnal internasional. Jurnal internasioanal yang menerbitkan adalah ITB Journal. Judul dan abstrak artikel yang saya submit adalah:

A New RTL Design Approach for a DCT/IDCT-Based Image Compression Architecture using the mCBE Algorithm

Rachmad Vidya Wicaksana Putra, Rella Mareta, Nurfitri Anbarsanti & Trio Adiono

IC Design Laboratory, Electrical Engineering, School of Electrical Engineering and Informatics, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10, Bandung 40132, Indonesia
Email: rachmadvidyawp{at}students.itb.ac.id, rachavidyawp{at}gmail.com

Abstract. In the literature, several approaches of designing a DCT/IDCT-based image compression system have been proposed. In this paper, we present a new RTL design approach with as main focus developing a DCT/IDCT-based image compression architecture using a self-created algorithm. This algorithm can efficiently minimize the amount of shifter-adders to substitute multipliers. We call this new algorithm the multiplication from Common Binary Expression (mCBE) Algorithm. Besides this algorithm, we propose alternative quantization numbers, which can be implemented simply as shifters in digital hardware. Mostly, these numbers can retain a good compressed-image quality compared to JPEG recommendations. These ideas lead to our design being small in circuit area, multiplierless, and low in complexity. The proposed 8-point 1D-DCT design has only six stages, while the 8-point 1D-IDCT design has only seven stages (one stage being defined as equal to the delay of one shifter or 2-input adder). By using the pipelining method, we can achieve a high-speed architecture with latency as a trade-off consideration. The design has been synthesized and can reach a speed of up to 1.41ns critical path delay (709.22MHz).

Keywords: DCT/IDCT architecture; low complexity; mCBE Algorithm; multiplierless; a new RTL design approach

Link terkait bisa dilihat di sini:

Pada awalnya saya tidak berpikir kalau artikel ini bisa diterima di jurnal ilmiah, apalagi level internasional. Karena pada awalnya adalah paper hasil riset beberapa bulan yang saya rasa kurang optimal. Lalu, saya submit di Conference ICEEI 2011 (http://stei.itb.ac.id/iceei2011/). Tidak saya sangka, ternyata ITB Journal mengirimkan invitation untuk diperbaiki dan dikembangkan dan di-submit ke ITB Journal. Maka dengan polos dan minim pengalaman, saya perbaiki dan submit lagi ke ITB Journal, sekitar November 2011. Alhamdulillah setelah sekitar setahun dan beberapa kali revisi, artikel ini diterima untuk publish pada September 2012. 

Terima kasih saya haturkan kepada Allah SWT, rekan-rekan Tim Fathanmubina (Ella dan Santi), dan tentunya Pak Trio Adiono sebagai pembimbing, serta rekan-rekan lain yang membantu secara langsung ataupun tidak langsung. Karena ini berkah karunia Allah SWT yang tidak disangka-sangka. Semoga ini bisa menjadi manfaat bagi kita semua. Jika ini adalah cobaan, maka semoga kita bisa semakin mendekatkan diri, bersyukur, dan tunduk kepada Allah SWT. Aamiin. Karena tanpa-Nya, kita tak ada daya apa-apa.

Semangat untuk berkarya lebih banyak lagi dalam bimbingan Allah SWT. Bismillah!


Recent Comments

Powered by Blogger Widgets