19 Mei 2011

Sedang Terjadi

Bismillahirrohmanirrohim

Telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim telah menceritakan kepadaku 'Abdul 'Aziz bin Isma'il bin 'Ubaidillah bahwa Sulaiman bin Habib menceritakan kepada mereka dari Abu Umamah Al Bahili dari Rasulullah Shallallahu'alaihiWasallam bersabda:
"Ikatan-ikatan Islam akan terburai satu demi satu, setiap kali satu ikatan terburai orang-orang bergantungan pada ikatan selanjutnya. Yang pertama kali terburai adalah masalah hukum dan yang terakhir adalah shalat."
Hadist no - 21139 Musnad Ahmad

Nah, hal ini tanpa di sadari sedang terjadi sekarang ini, setuju? Suatu pertanyaan yang patut kita kemukakan adalah, "Ke mana perginya orang-orang yang mengaku dirinya beriman?". Adakah tanggung jawab yang coba kita sematkan pada pundak kita masing-masing? Ataukah kita lalai karena disibukkan oleh berbagai hal? Tapi tenang kawan, semua belum terlambat selama kita belum tutup usia. Silahkan berkontemplasi jika ingin ikut memikirkan hal ini. Minimal, dimulai diari diri kita sendiri. Semoga Allah mengkaruniakan pemahaman yang benar kepada kita dan membimbing kita menuju ridhoNya.

Aamiin

15 Mei 2011

Ringkasan Sejarah Imam Ahmad bin Hanbal

Bismillahirrohmanirrohim

• Kelahiran
Ahmad bin Hanbal (781 - 855 M, 164 - 241 H) (Arab أحمد بن حنبل‏‏ ) adalah seorang ahli hadits dan teologi Islam. Ia lahir di Marw (saat ini bernama Mary di Turkmenistan, utara Afganistan dan utara Iran) di kota Baghdad, Irak. Kunyah beliau Abu Abdillah lengkapnya: Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi/ Ahmad bin Muhammad bin Hanbal dikenal juga sebagai Imam Hambali.

• Kehidupan
- Beliau menikah pada umur 40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang melimpah. Ia memeperoleh anak-anak yang shalih, yang mewarisi ilmunya, seperti Abdullah dan Shalih. 

Zuhud Dunia
Beliau memakai peci yang dijahit sendiri. Dan kadang beliau keluar ke tempat kerja membawa kampak untuk bekerja dengan tangannya. Kadang juga beliau pergi ke warung membeli seikat kayu bakar dan barang lainnya lalu membawa dengan tangannya sendiri. Al Maimuni pernah berujar, “Rumah Abu Abdillah Ahmad bin Hambal sempit dan kecil”.

- Wara’ dan menjaga harga diri
Abu Isma’il At-Tirmidzi mengatakan, “Datang seorang lelaki membawa uang sebanyak sepuluh ribu (dirham) untuk beliau, namun beliau menolaknya”. Ada juga yang mengatakan, “Ada seseorang memberikan lima ratus dinar kepada Imam Ahmad namun beliau tidak mau menerimanya”. Juga pernah ada yang memberi tiga ribu dinar, namun beliau juga tidak mau menerimanya.

- Tawadhu’ dengan kebaikannya
-- Yahya bin Ma’in berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang seperti Imam Ahmad bin Hambal, saya berteman dengannya selama lima puluh tahun dan tidak pernah menjumpai dia membanggakan sedikitpun kebaikan yang ada padanya kepada kami”. Beliau (Imam Ahmad) mengatakan, “Saya ingin bersembunyi di lembah Makkah hingga saya tidak dikenal, saya diuji dengan popularitas”.
-- Al Marrudzi berkata, “Saya belum pernah melihat orang fakir di suatu majlis yang lebih mulia kecuali di majlis Imam Ahmad, beliau perhatian terhadap orang fakir dan agak kurang perhatiannya terhadap ahli dunia (orang kaya), beliau bijak dan tidak tergesa-gesa terhadap orang fakir. Ia sangat rendah hati, begitu tinggi ketenangannya dan sangat memuka kharismanya”. Beliau pernah bermuka masam karena ada seseorang yang memujinya dengan mengatakan, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasamu kepada Islam?” beliau mengatakan, “Jangan begitu tetapi katakanlah, semoga Allah membalas kebaikan terhadap Islam atas jasanya kepadaku, siapa saya dan apa (jasa) saya?!”

- Kelurusan aqidahnya sebagai standar kebenaran
-- Ahmad bin Ibrahim Ad-Dauruqi mengatakan, “Siapa saja yang kamu ketahui mencela Imam Ahmad maka ragukanlah agamanya”.
-- Sufyan bin Waki’ juga berkata, “Ahmad di sisi kami adalah cobaan, barangsiapa mencela beliau maka dia adalah orang fasik”.

- Ahli Hadits sekaligus juga Ahli Fiqih
-- Ibnu ‘Aqil berkata, “Saya pernah mendengar hal yang sangat aneh dari orang-orang bodoh yang mengatakan, “Ahmad bukan ahli fiqih, tetapi hanya ahli hadits saja. Ini adalah puncaknya kebodohan, karena Imam Ahmad memiliki pendapat-pendapat yang didasarkan pada hadits yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, bahkan beliau lebih unggul dari seniornya”.
-- Bahkan Imam Adz-Dzahabi berkata, “Demi Allah, beliau dalam fiqih sampai derajat Laits, Malik dan Asy-Syafi’i serta Abu Yusuf. Dalam zuhud dan wara’ beliau menyamai Fudhail dan Ibrahim bin Adham, dalam hafalan beliau setara dengan Syu’bah, Yahya Al Qaththan dan Ibnul Madini. Tetapi orang bodoh tidak mengetahui kadar dirinya, bagaimana mungkin dia mengetahui kadar orang lain!!

• Menimba Ilmu
- Ilmu yang pertama kali dikuasai adalah Al Qur’an hingga beliau hafal pada usia 15 tahun, beliau juga mahir baca-tulis dengan sempurna hingga dikenal sebagai orang yang terindah tulisannya.
- Lalu beliau mulai konsentrasi belajar ilmu hadits di awal umur 15 tahun itu pula. Beliau telah mempelajari Hadits sejak kecil dan untuk mempelajari Hadits ini beliau pernah pindah atau merantau ke Syam (Syiria), Hijaz, Yaman dan negara-negara lainnya sehingga beliau akhirnya menjadi tokoh ulama yang bertakwa, saleh, dan zuhud. Abu Zur'ah mengatakan bahwa kitabnya yang sebanyak 12 buah sudah belau hafal di luar kepala. Belaiu menghafal sampai sejuta hadits.
- Sabar dalam menuntut ilmu. Tatkala beliau pulang dari tempat Abdurrazzaq yang berada di Yaman, ada seseorang yang melihatnya di Makkah dalam keadaan sangat letih dan capai. Lalu ia mengajak bicara, maka Imam Ahmad mengatakan, “Ini lebih ringan dibandingkan faidah yang saya dapatkan dari Abdirrazzak”.
- Hati-hati dalam berfatwa. Zakariya bin Yahya pernah bertanya kepada beliau, “Berapa hadits yang harus dikuasai oleh seseorang hingga bisa menjadi mufti? Apakah cukup seratus ribu hadits? Beliau menjawab, “Tidak cukup”. Hingga akhirnya ia berkata, “Apakah cukup lima ratus ribu hadits?” beliau menjawab. “Saya harap demikian”.
- Guru-guru Beliau
Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada banyak ulama, jumlahnya lebih dari dua ratus delapan puluh yang tersebar di berbagai negeri, seperti di Makkah, Kufah, Bashrah, Baghdad, Yaman dan negeri lainnya. Di antara mereka adalah:
- Ismail bin Ja’far
- Abbad bin Abbad Al-Ataky
- Umari bin Abdillah bin Khalid
- Husyaim bin Basyir bin Qasim bin Dinar As-Sulami
- Imam Syafi'i
- Waki’ bin Jarrah
- Ismail bin Ulayyah
- Sufyan bin ‘Uyainah
- Abdurrazaq
- Ibrahim bin Ma’qil

• Karya
Beliau menulis kitab al-Musnad al-Kabir yang termasuk sebesar-besarnya kitab "Musnad" dan sebaik baik karangan beliau dan sebaik baik penelitian hadits. Ia tidak memasukkan dalam kitabnya selain yang dibutuhkan sebagai hujjah. Kitab Musnad ini berisi lebih dari 25.000 hadits. Di antara karya Imam Ahmad adalah ensiklopedia hadits atau Musnad, disusun oleh anaknya dari ceramah (kajian-kajian) - kumpulan lebih dari 40 ribu hadits juga Kitab ash-Salat dan Kitab as-Sunnah.
Kitab Al Musnad, karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat lebih dari 20.000 hadits.
1. Kitab at-Tafsir, namun Adz-Dzahabi mengatakan, “Kitab ini hilang”.
2. Kitab an-Nasikh wa al-Mansukh
3. Kitab at-Tarikh
4. Kitab Hadits Syu'bah
5. Kitab al-Muqaddam wa al-Mu'akkhar fi al-Qur`an
6. Kitab Jawabah al-Qur`an
7. Kitab al-Manasik al-Kabir
8. Kitab al-Manasik as-Saghir

Menurut Imam Nadim, kitab berikut ini juga merupakan tulisan Imam Ahmad bin Hanbal
1. Kitab al-'Ilal
2. Kitab al-Manasik
3. Kitab az-Zuhd
4. Kitab al-Iman
5. Kitab al-Masa'il
6. Kitab al-Asyribah
7. Kitab al-Fadha'il
8. Kitab Tha'ah ar-Rasul
9. Kitab al-Fara'idh
10. Kitab ar-Radd ala al-Jahmiyyah

• Wafatnya
Setelah sakit sembilan hari, beliau Rahimahullah menghembuskan napas terakhirnya di pagi hari Jum’at bertepatan dengan tanggal dua belas Rabi’ul Awwal 241 H pada umur 77 tahun. Jenazah beliau dihadiri delapan ratus ribu pelayat lelaki dan enam puluh ribu pelayat perempuan.

• Pendapat terhadap Beliau
- Abu Ja’far mengatakan, “Ahmad bin Hambal manusia yang sangat pemalu, sangat mulia dan sangat baik pergaulannya serta adabnya, banyak berfikir, tidak terdengar darinya kecuali mudzakarah hadits dan menyebut orang-orang shalih dengan penuh hormat dan tenang serta dengan ungkapan yang indah. Bila berjumpa dengan manusia, maka ia sangat ceria dan menghadapkan wajahnya kepadanya. Ia sangat rendah hati terhadap guru-gurunya serta menghormatinya”.
- Imam Asy-Syafi’i berkata,
-- “Ahmad bin Hambal imam dalam delapan hal, Imam dalam hadits, Imam dalam Fiqih, Imam dalam bahasa, Imam dalam Al Qur’an, Imam dalam kefaqiran, Imam dalam kezuhudan, Imam dalam wara’ dan Imam dalam Sunnah”.
-- "Setelah saya keluar dari Baghdad, tidak ada orang yang saya tinggalkan di sana yang lebih terpuji, lebih shaleh dan yang lebih berilmu daripada Ahmad bin Hambal"
-- Ibrahim Al Harbi memujinya, “Saya melihat Abu Abdillah Ahmad bin Hambal seolah Allah gabungkan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan dari berbagai disiplin ilmu”.
-- Abu Zur’ah pernah ditanya, “Wahai Abu Zur’ah, siapakah yang lebih kuat hafalannya? Anda atau Imam Ahmad bin Hambal?” Beliau menjawab, “Ahmad”. Ia masih ditanya, “Bagaimana Anda tahu?” beliau menjawab, “Saya mendapati di bagian depan kitabnya tidak tercantum nama-nama perawi, karena beliau hafal nama-nama perawi tersebut, sedangkan saya tidak mampu melakukannya”. Abu Zur’ah mengatakan, “Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits”.
-- Abdur Rozzaq Bin Hammam yang juga salah seorang guru beliau pernah berkata, "Saya tidak pernah melihat orang se-faqih dan se-wara' Ahmad Bin Hanbal"

• Murid Beliau
Umumnya ahli hadits pernah belajar kepada imam Ahmad bin Hambal, dan belajar kepadanya juga ulama yang pernah menjadi gurunya, yang paling menonjol adalah:
- Imam Bukhari
- Muslim
- Abu Daud
- Nasai
- Tirmidzi
- Ibnu Majah
- Imam Asy-Syafi'i. Imam Ahmad juga pernah berguru kepadanya.
- Putranya, Shalih bin Imam Ahmad bin Hambal
- Putranya, Abdullah bin Imam Ahmad bin Hambal
- Keponakannya, Hambal bin Ishaq

• Masa Fitnah
Pemahaman Jahmiyyah belum berani terang-terangan pada masa khilafah Al Mahdi, Ar-Rasyid dan Al Amin, bahkan Ar-Rasyid pernah mengancam akan membunuh Bisyr bin Ghiyats Al Marisi yang mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluq. Namun dia terus bersembunyi di masa khilafah Ar-Rasyid, baru setelah beliau wafat, dia menampakkan kebid’ahannya dan menyeru manusia kepada kesesatan ini.
Di masa khilafah Al Ma’mun, orang-orang jahmiyyah berhasil menjadikan paham jahmiyyah sebagai ajaran resmi negara, di antara ajarannya adalah menyatakan bahwa Al Qur’an makhluk. Lalu penguasa pun memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan bahwa Al Qur’an makhluk, terutama para ulamanya. Barangsiapa mau menuruti dan tunduk kepada ajaran ini, maka dia selamat dari siksaan dan penderitaan. Bagi yang menolak dan bersikukuh dengan mengatakan bahwa Al Qur’an Kalamullah bukan makhluk maka dia akan mencicipi cambukan dan pukulan serta kurungan penjara.
Karena beratnya siksaan dan parahnya penderitaan banyak ulama yang tidak kuat menahannya yang akhirnya mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa zhalim meski cuma dalam lisan saja. Banyak yang membisiki Imam Ahmad bin Hambal untuk menyembunyikan keyakinannya agar selamat dari segala siksaan dan penderitaan, namun beliau menjawab, “Bagaimana kalian menyikapi hadits “Sesungguhnya orang-orang sebelum Khabbab, yaitu sabda Nabi Muhammad ada yang digergaji kepalanya namun tidak membuatnya berpaling dari agamanya”. HR. Bukhari 12/281. lalu beliau menegaskan, “Saya tidak peduli dengan kurungan penjara, penjara dan rumahku sama saja”.
Ketegaran dan ketabahan beliau dalam menghadapi cobaan yang menderanya digambarkan oleh Ishaq bin Ibrahim, “Saya belum pernah melihat seorang yang masuk ke penguasa lebih tegar dari Imam Ahmad bin Hambal, kami saat itu di mata penguasa hanya seperti lalat”. Di saat menghadapi terpaan fitnah yang sangat dahsyat dan deraan siksaan yang luar biasa, beliau masih berpikir jernih dan tidak emosi, tetap mengambil pelajaran meski datang dari orang yang lebih rendah ilmunya. Ia mengatakan, “Semenjak terjadinya fitnah saya belum pernah mendengar suatu kalimat yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Arab Badui kepadaku, “Wahai Ahmad, jika anda terbunuh karena kebenaran maka anda mati syahid, dan jika anda selamat maka anda hidup mulia”. Maka hatiku bertambah kuat”.

 >> Disarikan dari berbegai sumber, akan diupdate jika mendapatkan sumber lainnya, Insya Allah

Ringkasan Sejarah Imam Syafi'i

Bismillahirrohmanirrohim

Ringkasan Sejarah Imam Syafi'i

• Kelahiran
Abū ʿAbdullāh Muhammad bin Idrīs al-Shafiʿī atau Muhammad bin Idris asy-Syafi`i (bahasa Arab: محمد بن إدريس الشافعي) yang akrab dipanggil Imam Syafi'i (Gaza, Palestina, 150 H / 767 - Fusthat, Mesir 204H / 819M) adalah seorang mufti besar Sunni Islam dan juga pendiri mazhab Syafi'i. Imam Syafi'i juga tergolong kerabat dari Rasulullah, ia termasuk dalam Bani Muththalib, yaitu keturunan dari al-Muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Muhammad.
Kebanyakan ahli sejarah berpendapat bahwa Imam Syafi'i lahir di Gaza, Palestina, namun di antara pendapat ini terdapat pula yang menyatakan bahwa dia lahir di Asqalan; sebuah kota yang berjarak sekitar tiga farsakh dari Gaza. Menurut para ahli sejarah pula, Imam Syafi'i lahir pada tahun 150 H, yang mana pada tahun ini wafat pula seorang ulama besar Sunni yang bernama Imam Abu Hanifah.

• Kehidupan
- Dilahirkan di Syam, tinggal di Mekkah kemudian pindah ke Irak, sampai akhirnya menetap di Mesir. Hidup dalam kondisi yatim, hafal Al Qur’an di usia 7 tahun.
- Setelah ayah Imam Syafi’i meninggal dan dua tahun kelahirannya, sang ibu membawanya ke Mekah, tanah air nenek moyang. Ia tumbuh besar di sana dalam keadaan yatim. Sejak kecil Syafi’i cepat menghafal syair, pandai bahasa Arab dan sastra sampai-sampai Al Ashma’i berkata,”Saya mentashih syair-syair bani Hudzail dari seorang pemuda dari Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris,” Imam Syafi’i adalah imam bahasa Arab.
- Salah satu empat Imam Mahzab yang besar, mahzabnya tersebar di Mesir, Irak, Daghistan, dan negeri-negeri timur, termasuk Indonesia.

• Menimba Ilmu
- Saat usia 20 tahun, Imam Syafi'i pergi ke Madinah untuk berguru kepada ulama besar saat itu, Imam Malik. Dua tahun kemudian, ia juga pergi ke Irak, untuk berguru pada murid-murid Imam Hanafi di sana.
Beliau meriwayatkan dari:
- Imam Malik : Menghafal Al-Muwaththa pada usia 20 tahun
- Muslim Az-Zanji
- Ibnu Uyainah
- Ibrahim bin Saad Fudhail bin Abbas
Belajar di Makkah
- Imam Syafi’i berguru fiqh kepada mufti di sana, Muslim bin Khalid Az Zanji sehingga ia mengizinkannya memberi fatwa ketika masih berusia 15 tahun.
- Kemudian beliau juga belajar dari Dawud bin Abdurrahman Al-Atthar.
- Juga belajar dari pamannya yang bernama Muhammad bin Ali bin Syafi’i.
- Juga menimba ilmu dari Sufyan bin Uyainah.
- Guru yang lainnya dalam fiqih ialah Abdurrahman bin Abi Bakr Al-Mulaiki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin Al-Ayyadl dan masih banyak lagi yang lainnya.
- Beliau semakin menonjol dalam bidang fiqih hanya dalam beberapa tahun saja duduk di berbagai halaqah ilmu para Ulama’ fiqih sebagaimana tersebut di atas.
Belajar di Madinah
- Kemudian beliau pergi ke Madinah dan berguru fiqh kepada Imam Malik bin Anas. Ia mengaji kitab Muwattha’ kepada Imam Malik dan menghafalnya dalam 9 malam. Kecerdasannya membuat Imam Malik amat mengaguminya. Sementara itu As-Syafi`ie sendiri sangat terkesan dan sangat mengagumi Imam Malik di Al-Madinah dan Imam Sufyan bin Uyainah di Makkah. Beliau menyatakan kekagumannya setelah menjadi Imam dengan pernyataannya yang terkenal berbunyi: “Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” Juga beliau menyatakan lebih lanjut kekagumannya kepada Imam Malik: “Bila datang Imam Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang di majelis itu.” Beliau juga sangat terkesan dengan kitab Al-Muwattha’ Imam Malik sehingga beliau menyatakan: “Tidak ada kitab yang lebih bermanfaat setelah Al-Qur’an, lebih dari kitab Al-Muwattha’ .” Beliau juga menyatakan: “Aku tidak membaca Al-Muwattha’ Malik, kecuali mesti bertambah pemahamanku.”
- Di samping itu, pemuda ini juga duduk menghafal dan memahami ilmu dari para Ulama’ yang ada di Al-Madinah, seperti Ibrahim bin Sa’ad, Isma’il bin Ja’far, Atthaf bin Khalid, Abdul Aziz Ad-Darawardi.
Belajar di Yaman
- Imam Syafi’i kemudian pergi ke Yaman dan bekerja sebentar di sana.
- Disebutkanlah sederet Ulama’ Yaman yang didatangi oleh beliau ini seperti: Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli dan banyak lagi yang lainnya.
Belajar di Baghdad, Irak
- Kemudian pergi ke Baghdad (183 dan tahun 195), di sana ia menimba ilmu dari Muhammad bin Hasan, seorang ahli fiqih di negeri Iraq.
- Beliau juga mengambil ilmu dari Isma’il bin Ulaiyyah dan Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi dan masih banyak lagi yang lainnya.
Belajar di Mesir
- Imam Syafi’i bertemu dengan Ahmad bin Hanbal di Mekah tahun 187 H dan di Baghdad tahun 195 H. Dari Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi’i menimba ilmu fiqhnya, ushul madzhabnya, penjelasan nasikh dan mansukhnya.

Periwayat dari Beliau
- Al Humaidi
- Ahmad bin Hambal (Imam Hambali)
- Al-Buwaithi
- Al-Muzani

Ulama Asy-Syafi’iyah antara lain:
- An Nawawi
- Syaukani
- Ibnu Rif’ah
- Ibnu Daqiq Al-‘Id
- As Subki
- Al Balqini

• Karya
- Ar-Risalah
Salah satu karangannya adalah “Ar Risalah” buku pertama tentang ushul fiqh. Imam Syafi’i adalah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Ia mampu memadukan fiqh ahli Irak dan fiqh ahli Hijaz. Imam Ahmad berkata tentang Imam Syafi’i,”Beliau adalah orang yang paling faqih dalam Al Quran dan As Sunnah,” “Tidak seorang pun yang pernah memegang pena dan tinta (ilmu) melainkan Allah memberinya di ‘leher’ Syafi’i,”. Thasy Kubri mengatakan di Miftahus sa’adah, ”Ulama ahli fiqh, ushul, hadits, bahasa, nahwu, dan disiplin ilmu lainnya sepakat bahwa Syafi’i memiliki sifat amanah (dipercaya), ‘adalah (kredibilitas agama dan moral), zuhud, wara’, takwa, dermawan, tingkah lakunya yang baik, derajatnya yang tinggi. Orang yang banyak menyebutkan perjalanan hidupnya saja masih kurang lengkap,”

Mazhab Syafi'i
Dasar madzhabnya: Al Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Beliau juga tidak mengambil Istihsan (menganggap baik suatu masalah) sebagai dasar madzhabnya, menolak maslahah mursalah, perbuatan penduduk Madinah. Imam Syafi’i mengatakan,”Barangsiapa yang melakukan istihsan maka ia telah menciptakan syariat,”. Penduduk Baghdad mengatakan,”Imam Syafi’i adalah nashirussunnah (pembela sunnah).”

- Al-Hujjah
Kitab “Al Hujjah” yang merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat Imam Irak; Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al Karabisyi dari Imam Syafi’i.

- Al-Umm
“Al Umm” sebagai madzhab yang baru Imam Syafi’i diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir; Al Muzani, Al Buwaithi, Ar Rabi’ Jizii bin Sulaiman. Imam Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya,”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka ia (hadis) adalah madzhabku, dan buanglah perkataanku di belakang tembok,”

• Wafatnya
Di Baghdad, Imam Syafi’i menulis madzhab lamanya (madzhab qodim). Kemudian beliu pindah ke Mesir tahun 200 H dan menuliskan madzhab baru (madzhab jadid). Di sana beliau wafat sebagai syuhadaul ilm di akhir bulan Rajab 204 H.

• Pendapat terhadap Beliau
- Imam Ahmad bin Hambal berkata:
-- “Tidak seorang pun dari Ahli Hadist yang membawa tinta kecuali Imam Syafi’i, dan saya tidak tahu nasikh dan mansukh dari hadist kecuali setelah berguru padanya”.
-- “Imam Syafi’i bagaikan matahari bagi alam raya, dan penyegar bagi tubuh, apakah ada manusia yang tidak membutuhkannya?”.

>> Disarikan dari berbegai sumber, akan diupdate jika mendapatkan sumber lainnya, Insya Allah

Ringkasan Sejarah Imam Maliki

Bismillahirrohmanirrohim

Ringkasan Sejarah Imam Maliki

• Kelahiran
Mālik ibn Anas bin Malik bin 'Āmr al-Asbahi atau Malik bin Anas (lengkapnya: Malik bin Anas bin Malik bin `Amr, al-Imam, Abu `Abd Allah al-Humyari al-Asbahi al-Madani), (Bahasa Arab: مالك بن أنس), lahir di (Madinah pada tahun 714 (93 H), dan meninggal pada tahun 800 (179 H)). Imam Malik dilahirkan di Madinah al Munawwaroh. sedangkan mengenai masalah tahun kelahirannya terdapat perbedaaan riwayat. al-Yafii dalam kitabnya Thabaqat Fuqoha meriwayatkan bahwa imam malik dilahirkan pada 94 H. Ibn Khalikan dan yang lain berpendapat bahwa Imam Malik dilahirkan pada 95 H. sedangkan. Imam al-Dzahabi meriwayatkan Imam Malik dilahirkan 90 H. Imam Yahya bin Bakir meriwayatkan bahwa ia mendengar Imam Malik berkata :"aku dilahirkan pada 93 H". dan inilah riwayat yang paling benar (menurut al-Sam'ani dan ibn Farhun).

• Kehidupan
- Ia adalah pakar ilmu fikih dan hadits, serta pendiri Mazhab Maliki. Mahzabnya tersebar ke Maroko, Andalusia, Yaman, Sudan, Bashrah, Baghdad, Kufah, sebagian Syam, Mesir, dan Khurasan.
- Pernah dipukuli dan disiksa sampai mengelupas kulitnya, karena dia berpendapat bahwa tidak jatuh talaknya orang yang dipaksa. Beliau juga menolak permohonan Khalifah Abu Ja’far Mansur agar orang-orang membawa kitab Al-Muwaththa yang merupakan kitab jami’ dalam ilmu fiqh dan hukum.

• Menimba Ilmu
Di antara guru beliau adalah:
- Nafi’ Maula ibnu Umar
- Ibnu Syihab Az-Zuhriy
- Hisyam bin Urwah
- Nafi’ bin Abi Nu’aim
- Nafi’ al Muqbiri
- Na’imul Majmar
- Amir bin Abdullah bin Az Zubair
- Ibnul Munkadir
- Abdullah bin Dinar
Imam Malik menerima hadits dari 900 orang (guru), 300 dari golongan Tabi’in dan 600 dari tabi’in tabi’in.
Beliau meriwayatkan hadits bersumber dari:
- Nu’main al Mujmir
- Zaib bin Aslam
- Nafi’
- Syarik bin Abdullah
- az Zuhry
- Abi az Ziyad
- Sa’id al Maqburi
- Humaid ath Thawil
Teman-teman beliau:
- Sufyan Ats-Tsauri
- Abu Hanifah An-Nu’man
- Abu Yusuf
- Al-Laits bin Saad

• Periwayat dari Beliau
- az Zuhry
- Yahya bin Sa’id.
- al Auza’i.,
- Ats Tsauri,
- Sufyan bin Uyainah,
- Al Laits bin Sa’ad,
- Ibnu Juraij dan
- Syu’bah bin Hajjaj

• Karya
- Al-Muwaththa’
Malik bin Anas menyusun kompilasi hadits dan ucapan para sahabat dalam buku yang terkenal hingga kini, yang diberi nama Al Muwaththa’. Al-Muwaththa berarti ‘yang disepakati’ atau ‘tunjang’ atau ‘panduan’ yang membahas tentang ilmu dan hukum-hukum agama Islam. Al-Muwaththa merupakan sebuah kitab yang berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh Imam Malik serta pendapat para sahabat dan ulama-ulama tabiin. Kitab ini lengkap dengan berbagai problem agama yang merangkum ilmu hadits, ilmu fiqh dan sebagainya. Semua hadits yang ditulis adalah sahih kerana Imam Malik terkenal dengan sifatnya yang tegas dalam penerimaan sebuah hadits. Dia sangat berhati-hati ketika menapis, mengasingkan, dan membahas serta menolak riwayat yang meragukan. Dari 100.000 hadits yang dihafal beliau, hanya 10.000 saja diakui sah dan dari 10.000 hadits itu, hanya 5.000 saja yang disahkan sahih olehnya setelah diteliti dan dibandingkan dengan al-Quran.
Menurut sebuah riwayat, Imam Malik menghabiskan 40 tahun untuk mengumpul dan menapis hadits-hadits yang diterima dari guru-gurunya. Selama waktu itu, beliau menunjukan kepada 70 ahli fiqh Madinah. Kitab tersebut menghimpun 100.000 hadits, dan yang meriwayatkan Al Muwaththa’ lebih dari seribu orang, karena itu naskahnya berbeda-beda dan seluruhnya berjumlah 30 naskah, tetapi yang terkenal hanya 20 buah. Dan yang paling masyur adalah riwayat dari Yahya bin Yahyah al Laitsi al Andalusi al Mashmudi. Ketika melukiskan kitab besar ini, Ibn Hazm berkata,” Al Muwaththa’ adalah kitab tentang fiqh dan hadits, aku belum mengetahui bandingannya.

- Risalah fi Al-Qadr
- Al-Sir
- Risalah fi Al-Aqdhiyah

• Wafatnya
Imam malik jatuh sakit pada hari ahad dan menderita sakit selama 22 hari kemudian 10 hari setelah itu ia wafat. Sebagian meriwayatkan Imam Malik wafat pada 14 Rabiulawwal 179H. Sahnun meriwayatkan dari Abdullah bin Nafi': " Imam Malik wafat pada usia 87 tahun". Ibn Kinanah bin Abi Zubair, putranya Yahya dan sekretarisnya Hubaib yang memandikan jenazah Imam Malik. Imam Malik dimakamkan di Baqi'

• Pendapat terhadap Beliau
- An Nasa’i berkata,” Tidak ada yang saya lihat orang yang pintar, mulia dan jujur, tepercaya periwayatan haditsnya melebihi Malik, kami tidak tahu dia ada meriwayatkan hadits dari rawi matruk, kecuali Abdul Karim”. (Ket: Abdul Karim bin Abi al Mukharif al Basri yang menetap di Makkah, karena tidak senegeri dengan Malik, keadaanya tidak banyak diketahui, Malik hanya sedikit mentahrijkan haditsnya tentang keutamaan amal atau menambah pada matan).
- Ibnu Hayyan berkata,” Malik adalah orang yang pertama menyeleksi para tokoh ahli fiqh di Madinah, dengan fiqh, agama dan keutamaan ibadah”.
- Imam as-Syafi'i
-- "Imam Malik adalah Hujjatullah atas makhluk-Nya setelah para Tabi'in ".
-- Seseorang bertanya kepada as-Syafi'i :" Apakah anda menemukan seseorang yang (alim) seperti Imam Malik?" as-Syafi'i menjawab :"Aku mendengar dari orang yang lebih tua dan lebih berilmu dari pada aku, mereka mengatakan kami tidak menemukan orang yang (alim) seperti Malik, maka bagaimana kami(orang sekarang) menemui yang seperti Malik? "
- “Tiada sebuah kitab di muka bumi ini yang lebih banyak mengandungi kebenaran selain dari kitab Al-Muwaththa karangan Imam Malik.”
- “Kalau tidak ada Imam Malik dan Ibnu ‘Uyainah, maka hilanglah ilmu dari negeri Hijaz”
- Yahya bin Ma'in berkata :"Imam Malik adalah Amirul mukminin dalam (ilmu) Hadits"
- Ayyub bin Suwaid berkata :"Imam Malik adalah Imam Darul Hijrah (Imam madinah) dan as-Sunnah, seorang yang Tsiqah, seorang yang dapat dipercaya".
- Ahmad bin Hanbal berkata:" Jika engkau melihat seseorang yang membenci imam malik, maka ketahuilah bahwa orang tersebut adalah ahli bid'ah"
- Imam Adz-Dzahabi berkata: “Ilmu fiqh berhulu pada Imam Malik, dan pendapatnya secara umum baik”.
- Abu Yusuf berkata: “Demi Allah, saya tidak akan mendekati raja dari para raja sampai mendekat kepada Imam Malik, kecuali Allah mencabut kewibawaannya dari dadaku”

• Murid Beliau
- Ibnul Mubarak
- Yahya Al Qathan
- Imam Syafi’i
- Waqi’ bin Jarrah
- Ibnu Mahdi
- Ibnu Wahb
- Ibnu Qosim
- Al Qo’nabi
- Abdullah bin Yusuf
- Sa’id bin Manshur
- Yahya bin Yahya al Andalusi
- Yahya bin Bakir
- Qutaibah Abu Mush’ab
- Al Auza’i
- Sufyan Ats Tsaury
- Sufyan bin Uyainah
- Abu Hudzafah as Sahmi
- Az Aubairi

• Buku tentang Beliau
- Tazyinu Al-Mamalik bi manaqibi Imam Malik (karya: Jalaluddin As-Suyuthi)
- Malik bin Anas: Hayatuhu-‘Ushruhu (karya: Muhammad bin Zahrah)

>> Disarikan dari berbegai sumber, akan diupdate jika mendapatkan sumber lainnya, Insya Allah

Ringkasan Sejarah Imam Abu Hanifah

Bismillahirrohmanirrohim

Ringkasan Sejarah Imam Abu Hanifah
• Kelahiran: 
Nu’man bin Tsabit bin Zuta bin Mahan at-Taymi (bahasa Arab: النعمان بن ثابت), lebih dikenal dengan nama Abū Ḥanīfah, (bahasa Arab: بو حنيفة) (lahir di Kufah, Irak pada 80 H / 699 M — meninggal di Baghdad, Irak, 148 H / 767 M). Beliau terkenal pula dengan sebutan Imam Ahli Al-Ra’yi (Imam Ahli Logika). Dilahirkan pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan (Daulah Ummayyah).

• Kehidupan 
-  Beliau membangun fundamental Mahzab Hanafi.
- Khalifah Abu Ja’far al-Mansur pernah bersumpah untuk menjadikannya qadhi, namun Abu Hanifah bersumpah untuk tidak melakukannya, dan berkata “Amirul Mukminin lebih mampu daripada saya unuk menunaikan kifarat atas sumpahnya”. Dari ucapan inilah khalifah merasa dilecehkan dan memerintahkan untuk menangkap dan memenjarakan Abu Hanifah sampai wafat pada tahun 150H pada usia 70 tahun.

• Menimba Ilmu
Menimba ilmu dari ratusan syaikh dan mengawali studinya dengan ilmu theology, berdiskusi dengan orang-orang atheis serta aliran sesat, kemudian atas bimbingan Hamad bin Abi Sulaiman dia dituntun untuk mempelajari ilmu fiqh. Di masa hidupnya, beiau pernah melihat dan mendengar beberapa sahabat nabi, yaitu:
- Anas bin Malik
- Abdullah az-Zubairi
- Amru bin Harits
Beliau juga meriwayatkan Hadist dari:
- Atha bin Abi Rabah, yaitu Syaikh pertama dan dari Sya’biy
- Amru bin Dinar

•  Periwayat dari Beliau
- Ibrahim bin Thahman (salah satu ulama Khurasan)
- Ishaq al-Azrak dan Hamzah az-Zayyat

•  Karya
Imam Hanafi disebutkan sebagai tokoh yang pertama kali menyusun kitab fiqh berdasarkan kelompok-kelompok yang berawal dari kesucian (taharah), salat dan seterusnya, yang kemudian diikuti oleh ulama-ulama sesudahnya seperti Malik bin Anas, Imam Syafi'i, Abu Dawud, Bukhari, Muslim dan lainnya.
Kitab-kitab hasil karya beliau adalah:
- Al-Musnad
- Al-Kharaj
- Al-Fiqhu Al-Akbar

• Pendapat terhadap Beliau
- Yazid bin Harun berkata “Saya tidak melihat seorangpun yang lebih cerdas dari Abu Hanifah”.
- Imam Syafi’i berkata “Tidak seorangpun mencari ilmu fiqih kecuali dari Abu Hanifah. Dari ucapannya sesuai apa yang dating dari Rasulullah SAW, apa yang dating dari sahabat dan apa yang dating dari selain mereka, dia memilihnya”

• Buku tentang Beliau
- Khabar Abu Hanifah (karya: Asy-Syaibaniy)
- Abu Hanifah: Hayatuhu, wa’Asruhu, wa Arahu wa Fiqhuhu (karya: Muhammad Abu Zahrah)

>> Disarikan dari berbegai sumber, akan diupdate jika mendapatkan sumber lainnya, Insya Allah

10 Mei 2011

[Lyric] Hold My Hand - by: Maher Zain

I hear the flower’s kinda crying loud
The breeze’s sound in sad
Oh no
Tell me when did we become,
So cold and empty inside
Lost a way long time ago
Did we really turn out blind
We don’t see that we keep hurting each other no
All we do is just fight

Now we share the same bright sun,
The same round moon
Why don’t we share the same love
Tell me why not
Life is shorter than most have thought

Hold my hand
There are many ways to do it right
Hold my hand
Turn around and see what we left behind
Hold my hand my friend
We can save the good spirit of me and you
For another chance
And let’s pray for a beautiful world
A beautiful world I share with you

Children seem like they’ve lost their smile
On the new blooded playgrounds
Oh no
How could we ignore, heartbreaking crying sounds
And we’re still going on
Like nobody really cares
And we just stopped feeling all the pain because
Like it’s a daily basic affair

Now we share the same bright sun,
The same round moon
Why don’t we share the same love
Tell me why not
Life is shorter than most have thought

Hold my hand
There are many ways to do it right
Hold my hand
Turn around and see what we have left behind
Hold my hand my friend
We can save the good spirit of me and you
For another chance
And let’s pray for a beautiful world
A beautiful world I share with you

No matter how far I might be
I’m always gonne be your neighbour
There’s only one small planet where to be
So I’m always gonna be your neighbour
We cannot hide, we can’t deny
That we’re always gonna be neighbours
You’re neighbour, my neighbour
We’re neighbours

So hold my hand
There are many ways to do it right
Hold my hand
Turn around and see what we left behind
So hold my hand
There are many ways to do it right
Hold my hand
Turn around and see what we left behind
Hold my hand my friend
We can save the good spirit of me and you
For another chance
And let’s pray for a beautiful world
A beautiful world I share with you

Artist: Maher Zain
Album: Thank You Allah
Lyrics: Bilal Hajji
Melody: Maher Zain
Arrangement: Maher Zain
Copyright: Awakening Records 2009
 

[Lyric] Always Be There - by: Maher Zain

Alllahu Akbar 4x…
Alllahu Akbar 4x…
 
If you ask me about love
And what I know about it
My answer would be
It’s everything about Allah
The pure love, to our souls
The creator of you and me, the heaven and whole universe
The one that made us whole and free
The guardian of His true believers
 
So when the time is hard
There’s no way to turn
As He promises He will always be there
To bless us with His love and His mercy
Coz, as He promises He will always be there
He’s always watching us, guiding us
And He knows what’s in all in our heart
So when you lose your way
To Allah you should turn
As He promises He will always be there

He brings ourselves from the darkness into the light
Subhanallah, capable of everything
Shouldn’t never feel afraid of anything
As long as we follow His guidance all the way
Through the short time we have in this life

Soon it all’ll be over
And we’ll be in His heaven and we’ll all be fine

So when the time gets hard
There’s no way to turn
As He promises He will always be there
To bless us with His love and His mercy
Coz, as He promises He will always be there
 
He’s always watching us, guiding us
And He knows what’s in all in our heart
So when you lose your way
To Allah you should turn
As He promises He will always be there

Allahu Akbar 4x…
Allahu Akbar 4x…
Allahu Akbar 4x…
Allahu Akbar 4x…
  
So when the time gets hard
There’s no way to turn
As He promises He will always be there
To bless us with His love and His mercy
Coz, as He promises He will always be there
He’s always watching us, guiding us
And he knows what’s in all in our heart
So when you lose your way
To Allah you should turn
As He promises He will always be there

Allahu Akbar 4x…
Allahu Akbar 4x…
Allahu Akbar 4x…

Artist: Maher Zain
Album: Thank You Allah
Lyrics: Bilal Hajji & Maher Zain
Melody: Maher Zain
Copyright: Awakening Records 2009
 

Recent Comments

Powered by Blogger Widgets